Mengawali Tahun 2023 dengan Menjadi Relawan



Hai, hai!

Lama sekali untuk bisa menulis blog lagi. Sulit sekali menyempatkan diri untuk duduk dan terus menulis. Sejak aktif menulis cerita anak mulai tahun 2015 sampai sekarang, paling banyak ya menulis karena ada pesanan. Faktor eksternal sangat memberikan motivasi untuk terus menulis. Makanya, saya salut sekali dengan orang-orang yang bisa berkarya mengerjakan proyek pribadinya. Ini tuh butuh usaha keras. Bagi saya ya. Semoga kalian tidak.
 
Kesulitan saya semakin bertambah (atau ya memang menganggap sebagai sebuah beban) ketika melahirkan anak kedua. Hal ini membuat saya enggan bergerak, berkarya, bergerak dan berpikir cepat, bahkan sulit untuk membawa kaki untuk melangkah keluar "rumah". Dalam hal ini, rumah yang saya maksud adalah lingkungan tempat tinggal. 

Jadilah saya bertekad di tahun ini (2023), saya ingin keluar dari "rumah". Saya ingin memiliki kesibukan dan kegiatan selain mengurus rumah, anak, dapur, dan sejenisnya. Dengan penuh kesadaran, bulan Januari saya nyeletuk dalam hati, "Mau daftar jadi kader Posyandu, ah!" Kenapa yang terpikirkan pertama jadi kader? Karena gini, saya tuh banyak baca dan menyimak konten-konten kesehatan pada anak. Saya suka sekali dan ilmunya juga langsung dipakai oleh saya di rumah. Mau berbagi tips dan wawasan seputar tumbuh-kembang anak di medos, enggak PD. Malas juga sih. Jadi yang terpikirkan adalah menjadi KADER POSYANDU.

Ajaibnya, Allah langsung menjawab lewat sebuah pesan dari Dinda. Dia adalah manager di Ruang Riung Ceria atau lebih dikenal di sini dengan sebutan RRC.


Nah, RRC ini adalah sebuah tempat di desa kami yang memiliki program mencegah stunting). Insya Allah kapan-kapan akan saya ceritakan detailnya apa ini. Singkat cerita, Dinda menghubungi saya untuk ikut serta jadi petugas konseling di RRC. Secara ringkas, petugas konseling ini memberikan konsultasi kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu dengan anak di bawah 2 tahun. Wah, cocok sekali kan dengan doa dan harapan saya tadi! Tanpa pikir panjang dan diskusi dengan suami, saya mengiyakan. Bukannya tidak ingin meminta restu dan izin suami, ya  ini bukan kali pertama saya berkegiatan di RRC. Biasanya hanya jadi pengunjung, tapi sekarang jadi salah satu petugas di sana. Jadwalnya pun tidak rutin. Jadi, saya bisa ambil kesimpulan sendiri dan lebih awal bahwa suami akan mengizinkan 😄

Pucuk di cinta ulam pun tiba.

Peribahasa ini sangat pas dengan kondisi saya saat itu. Allah seolah memberi jawaban lebih dari satu. Bulan itu, Januari tepatnya, Pustakalana Library membuka lowongan untuk volunteer. 


Ya ampun, rasanya senang sekali perpustakaan anak di Bandung yang selama ini jadi tempat langganan ikut berbagai seminar dan kegiatan anak buka kesempatan bagi yang mau menjadi volunteer. Ikut daftar dong, ya! Eh, ternyata tidak semudah itu untuk menjadi volunteer di sana. Ada tahap seleksinya juga. Gaya pisanlah pokoknya! Sungguh tak berharap banyak, saya lolos jadi volunteer di Lana (sapaan akrab dan singkat dari Pustakalana).

Begitulah saya mengawali tahun ini dengan tekad menjadi sukarelawan. Semoga banyak wawasan dan makna yang bisa dibawa pulang, untuk meramaikan ukiran kehidupan mendatang. 

Comments