Aplikasi Andalan untuk Mencatat Keuangan

Ramadan hampir tiba. Ada juga yang mulai berpuasa hari ini, tapi ada pula yang baru memulai sahur esok hari, tanggal 12 Maret 2024. Sebenarnya tidak banyak perbedaan kegiatan di rumah saat bulan Ramadan dan bulan-bulan lainnya. Bahkan untuk pilihan menu pun tak ada yang berbeda, sama seperti hari-hari biasa. Hanya saja, ketika Ramadan kami jadi lebih ketat dalam pengeluaran dan belanja. Ternyata hawa nafsu menghabiskan uang ini lebih nyata dirasakan saat bulan ini tiba. Banyak sekali pengeluaran insidental yang akhirnya membengkak dibandingkan bulan-bulan lainnya. 

Hal ini dimulai dari 14-7 hari menjelang 1 Ramadan. Begitu banyak agenda munggahan  dan botram yang harus didatangi/dilakukan. Entah itu bersama keluarga kecil, keluarga besar, keluarga mertua, keluarga kakek-nenek, teman kantor, tetannga satu gang, tetangga satu majlis taklim, tetangga satu kelompok senam, dan lain-lainnya. Banyak, deh. Acara munggahan jadi salah satu tanda dan ciri khas umat muslim Jawa Barat khususnya, tetapi juga ada beberapa daerah yang ikut melakukannya saat menyambut bulan Ramadan. 

Mengutip dari berbagai sumber, munggahan berasal dari bahasa Sunda yang artinya naik secara harfiah atau berjalan/naik atau keluar dari kebiasaan kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, munggahan berarti naik menuju bulan yang paling suci, yakni Ramadan.

Merujuk pada kata munggahan tadi, ternyata tidak hanya kita yang naik menuju bulan suci Ramadan, tetapi juga harga-harga dan hawa nafsu pun ikut naik. Misalnya saja saat berbelanja. Apapun itu, baik belanja kebutuhan sehari-hari, keperluan untuk menu sahur anak, hidangan untuk takjil, atau persiapan seragam untuk hari raya nanti. 

Sejak hari Jumat, aktivitas di pasar juga mulai naik. Jangan tanya harga-harga sembako. Wah, sudah lebih dulu merangkak naik. Kegiatan belanja yang meningkat saat menyambut bulan Ramadan, itu artinya konsumsi masyarakat juga mengalami kenaikan. Anehnya, saat berpuasa, yang mewajibkan untuk tidak makan dan minum, justru saat itulah jumlah yang kita konsumsi meningkat. 



Kadang-kadang atau justru seringnya, dompet jadi boncos. Enggak sadar ke mana saja uangnya habis. Padahal THR juga belum cair, hari raya masih jauh. Duh, duh. 

Karena itu, kesadaran terhadap kondisi keuangan juga perlu ikut dinaikkan. Caranya? Catat keuangan yang masuk dan pengeluaran. Biasa saja mungkin ya kalau yang sehari-harinya sudah melakukan in. Bagi kami, bulan ini harus lebih ketat lagi, karena kalau hari biasa kadang ada yang terlewat catatannya. "Enggak apa-apalah, receh ini." Eits, ternyata ini enggak baik (menurut kami). Soalnya jadi enggak terpantau tuh aliran uangnya ke mana. 

Cara termudah dan tercepat bagi kami adalah menggunakan Google Keep dan Google Sheet. Keduanya sudah cukup untuk membuat catatan keuangan kami. 

Google Keep, biasanya kami gunakan untuk catatan cepat, seperti notes gitu ya. Jadi, daftar belanjaan dan harga-harganya kami catat di sana. 


Kalau untuk catatan besar, kami pakai Google Sheet. Misalnya detail pemasukan bulanan, zakat, tabungan, investasi, sosial, belanja-belanji, pendidikan, dana darurat, dan happy-happy. 


Dua aplikasi di atas jadi andalan kami untuk mencatat laporan keuangan, terlebih saat bulan Ramadan begini. Karena pernah tertampar dengan quotes berikut ini:


Ini jadi pengingat bagi kita semua agar ibadah puasa kita lebih berkualitas. Semoga di tahun ini ibadah kita lebih meningkat lagi. Mari kita sama-sama tingkatkan kualitas keimanan, ketakwaan, dan tauhid kita. 

Marhaban ya Ramadan.



Comments